Solo Traveling ke Yogyakarta - Berkunjung ke dua tempat wisata, dan gak jadi tidur sendirian. DAY 3 & 4. END
Setelah menceritakan pengalaman solo traveling ku dari hari keberangkatan sampai hari kedua, kini tibalah saatnya dimana aku ceritain hari ketiga dan hari kepulanganku kembali ke Bandung.
• Hari ketiga di Yogyakarta, 12 Maret 2020; Berkunjung ke dua tempat wisata, beli oleh – oleh, dan gak jadi tidur sendirian
Selepas sholat subuh aku putuskan untuk menyantap mie cup yang sebelumnya telah aku beli semalam. Aku keluar kamar dan berjalan menuju lantai satu hostel untuk menyeduhnya menggunakan air dispenser yang memang disediakan cuma – cuma oleh pihak hostel. Aku makan dalam keheningan dan kegelapan. Maklum saja, itu masih amat pagi untuk makan. Aku memutuskan untuk tidak sarapan di hostel. Setelah menyantap mie, aku kembali ke kamar dan mendapati kedua temanku, Mbak Jingga dan Mbak Tri tengah berbincang – bincang, aku pun diajak mereka untuk sama – sama berbincang. Kami berbincang banyak hal yang terkadang diselingi canda tawa. Sambil berbincang, mereka juga mulai kembali merapihkan barang – barang yang akan mereka bawa karena pagi itu mereka akan check out. Mbak Jingga pulang ke Malang menggunakan kereta api, sedangkan Mbak Tri pulang ke Kebumen menggunakan mobil kantor bersama teman – temannya yang lain. Kita berbincang – bincang hingga akhirnya aku pamit untuk mandi terlebih dahulu. Setelahnya giliran Mbak Jingga yang mandi dan terakhir Mbak Tri. Ketika kami bertiga sudah beres mandi dan dandan yang rapih, barulah kami bertiga pamitan dan bertukar nomor handphone masing – masing. Sedih banget rasanya, harus pisah sama mereka. Tapi ya mau gimana lagi. Yang keluar dari hotel duluan adalah Mbak Jingga karena kereta yang akan dia naiki berangkat pagi. Setelah Mbak Jingga, aku pun menyusul dan sebelum keluar hotel untuk jalan – jalan aku pamitan ke Mbak Tri dan berpelukan. Huhuhu. Mbak Tri jadi yang keluar terakhir karena masih ada yang harus diurus di hotel.
Aku pun keluar hostel. Rencana pagi itu, aku akan berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg dan Keraton Yogyakarta. Aku memilih jalan dari hostel menuju Museum Benteng Vredeburg karena jaraknya dekat. Museum Benteng Vredeburg sendiri terletak di sekitaran jalan Malioboro. Karena ini sudah hari ketiga aku di Yogya, maka pelan – pelan aku sudah mulai hapal jalanan Yogyakarta walaupun hanya jarak dekat. Seperti waktu itu, aku memutuskan untuk memotong jalan dari hostel menuju Malioboro. Aku lupa lewat jalan apa, pokoknya, titik akhirnya di jalan Malioboro deh hehehehe. Setibanya di Malioboro, aku sempatkan duduk – duduk sebentar di kursi – kursi yang tersedia, sembari menikmati suasana pagi jalanan Malioboro ditemani dua buah martabak telur mini yang aku beli di jalan pintas tadi. Begitu menenangkan suasana pagi di Yogya kala itu. Kendaraan bisa dibilang belum terlalu banyak. Para pedagang kaki lima pun baru saja memulai untuk menyiapkan dagangannya. Sebagian pertokoan pun belum pada buka. Begitu pun mall Malioboro. Aku duduk dengan tenang, merekam kota Yogya lekat – lekat untuk aku simpan di memori. Entah kapan aku bisa kembali lagi ke kota tersebut. Semoga kelak ada kesempatan lagi. Dan untuk kesempatan selanjutnya, aku harap tidak pergi sendirian lagi. Aamiin.
|
| Suasana Malioboro pagi hari |
Jam menunjukkan
pukul 8 lebih, aku putuskan untuk memasuki dulu Pasar Beringharjo, untuk
sekadar melihat – melihat saja. Setelahnya, baru deh aku berkunjung ke Museum
Benteng Vredeburg. Kala itu suasana Museum Benteng Vredeburg sangatlah ramai.
Ramai oleh orang – orang yang berpakaian khas Jawa. Berdandan cantik dan
ganteng. Dari anak kecil hingga dewasa, semuanya rapih. Aku sempat bertanya –
tanya, ada acara apa ini. Apalagi, ada banyak polisi yang menjaga. Awalnya, aku
duga ada acara penting yang melibatkan para pejabat, atau hendak menerima tamu
istimewa. Namun semuanya terjawab ketika aku sudah membeli tiket seharga Rp
3.000 dan kemudian masuk ke dalam area Museum Benteng. Di dalam area Museum
Benteng aku bertemu dengan seorang bapak petugas kebersihan. Ia menjelaskan
bahwa, benar memang akan ada acara pagi itu, tapi bukan di area Museum Benteng
Vredeburg, melainkan di Monumen Serangan Umum 1 Maret yang letaknya sangat
berdekatan. Kala itu kalau aku tidak salah, akan diadakan acara semacam pentas
seni dari adik – adik berkebutuhan khusus. Oke, kembali bahas tentang Museum
Benteng Vredeburg. Ketika aku datang, kondisi museum tersebut masihlah sepi.
Bisa dibilang, baru akulah satu – satunya pengunjung kala itu. Aku emang datang
kepagian hahaha. Terlalu bersemangat sepertinya. Museum Benteng Vredeburg
adalah museum peninggalan Belanda yang mengoleksi berbagai macam karya seni,
berbagai macam patung, dan berbagai macam senjata peninggalan Belanda. Untuk
mempelajari sejarah yang terjadi di masa lampau, terdapat empat ruangan diorama
yang didalamnya ada ulasan tentang berbagai sejarah Indonesia. Hanya ruangan
diorama satu yang berhasil aku kunjungi seluruh bagian dalamnya. Sedangkan
untuk ruangan diorama lain maaf banget aku ga mampu menyelesaikan semuanya
karena satu ruangan diorama saja sudah lumayan agak luas. Apalagi, kala itu aku
sendiri jadi rasanya agak gimana gitu hehehe. Aku lebih banyak menghabiskan
melihat – lihat area museum dari luar. Halaman luarnya sangatlah luas, dan
teduh pula. Aku pun sempat melihat pemandangan Museum dari area atas. Jadi, aku
kayak menaiki sebuah tangga gitu, dan nanti dari atas aku bisa melihat area
Museum. Setelah puas berkeliling area Museum, aku putuskan untuk meninggalkan
Museum dan melanjutkan perjalanan ke Keraton Yogyakarta.
![]() |
| Museum Benteng Vredeburg |
![]() |
| Pemandangan Museum Benteng Vredeburg dari atas |
Seperti biasa aku menggunakan transportasi ojek online untuk menuju kesana. Saat di perjalanan, sang driver bertanya kepadaku mau masuk lewat pintu mana, dia bilang ada dua pintu masuk. Karena aku kurang riset, aku bilang aja masuk lewat pintu mana pun. Singkat cerita, setibanya di pintu masuk, aku turun dan membayar ongkos. Baru juga beberapa langkah dari motor, tiba – tiba ada seorang bapak yang mendekatiku dan menawarkan semacam paket wisata gitu. Dia bilang dia bisa menawarkan mengantar dan juga menunggu ke beberapa tempat wisata, bukan hanya Keraton Yogyakarta saja dengan biaya tertentu. Sebenarnya menarik tapi saat itu aku memang lebih memilih untuk pergi sendiri sesuai rencana yang sudah ku buat. Aku menolak secara halus, namun sang bapak tetap saja memaksa. Jujur aku mulai takut, lalu aku lirik ke sebelah kiri dan ternyata bapak driver ojol yang tadi mengantarku belum pergi jauh dan melihatku. Aku pun sudah memasang mimik wajah memelas kepada bapak driver. Untungnya beliau mengerti dan mendekatiku lagi seraya mengajakku untuk naik lagi ke motornya. Dia bilang, masuk aja lewat pintu yang satu lagi, jaraknya cuma beberapa meter. Aku pun segera naik dan mulai merasa aman lagi. Setelah kejadian itu, tidak beberapa lama tibalah aku di pintu masuk yang satu lagi. Pintu masuk yang mengingatkanku pada kegiatan study tour jaman SMK dulu. Aku pun turun dari motor dan mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak driver. Akhirnya aku pun masuk ke area Keraton Yogyakarta. Ketika hendak menuju tempat pembelian karcis, lagi – lagi aku bertemu dengan bapak – bapak yang menawariku paket wisata. Bahkan ketika dia tahu aku hanya sendiri, dia bilang kalau untuk saat itu Keraton sedang ramai oleh pengunjung yang bersifat rombongan. Sehingga yang sendirian seperti aku tidak diperbolehkan masuk terlebih dahulu, dan sama seperti bapak yang aku temui sebelumnya, lagi – lagi beliau menawari paket wisata. Aku pun lagi – lagi menolak secara halus dan segera berjalan menuju tempat pembelian tiket. Setibanya di tempat pembelian tiket, aku berkata ingin membeli satu tiket, dan ternyata ga ada penolakan sama sekali. Para petugas melayaniku dengan baik. Harga tiket masuk dibandrol Rp 8.000. setelah aku mendapat tiket masuk, aku pun bisa memasuki area Keraton tersebut.
Keraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari Raja – Raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Ketika aku datang, ada tenda yang sedang dibereskan. Aku tidak terlalu peduli kala itu dan aku putuskan untuk berkeliling area Keraton. Keraton Yogyakarta masih sama persis seperti saat aku datangi dahulu saat study tour. Sekilas ingatan – ingatan kala study tour melintas di kepalaku. Aku menyusuri area Keraton sendiri. Hingga akhirnya aku tiba di salah satu ruangan dan ada seorang abdi dalem yang berjaga. Aku pun tersenyum kepada beliau. Beliau pun membalas senyumku seraya menyuruhku untuk membuka topi yang ku kenakan. Aku kaget banget saat itu, dan aku pun langsung melepas topi tersebut seraya meminta maaf berkali – kali kepada beliau. Untungnya respon beliau baik dan dan tersenyum. Aku malah jadi yang gak enak. Akhirnya aku melanjutkan untuk berkeliling kembali area Keraton. Aku masuk ke banyak ruangan yang ada barang – barang bekas peninggalan jaman dulu. Oh iya, hati – hati ya, gak semua ruangan di Keraton bisa bebas kita foto – foto. Jadi alangkah lebih baik sebelum hendak mengambil gambar, dilihat dulu apakah ada papan peringatan atau tidak. Setelah berkeliling, aku pun kembali ke area lapangan berpasir. Ketika itu ada seorang bapak petugas yang sedang berdiri di dekatku. Aku pun menyapanya dan kita pun berbincang – bincang sedikit. Beliau pun menjelaskan tentang masalah pembongkaran tenda yang tadi aku sempat lihat pas awal masuk. Ternyata, sehari sebelum aku datang ke Keraton, ada acara penting di Keraton, yaitu Keraton kedatangan tamu istimewa yaitu, Raja dan Ratu Belanda. Sayang banget ya aku beda hari datangnya. Aku pun sempat menanyakan kepada bapak petugas tersebut perihal kenapa aku tadi dilarang memakai topi di area Keraton. Bapak itu pun menjawab dengan baik, beliau berkata bahwa sudah selayaknya adab seseorang ketika bertamu ke rumah seseorang memang harus melepas topi, karena menurut beliau, Keraton ini sama saja seperti dengan rumah Sultan. Maka dari itu, aku sebagai tamu harus tahu diri dengan melepas topi. Aku pun menerima penjelasan tersebut seraya aku pun juga menjelaskan bahwa dari awal aku masuk tidak ada satu pun yang menegurku. Jadi aku pikir memakai topi dalam Keraton adalah hal yang wajar. Aku benar – benar gak tahu kalau aturannya harus seperti itu. Aku sama sekali tidak bermaksud membela diri, hanya menjelaskan saja dari sudut pandangku. Alhamdulillah-nya bapak tersebut menerima penjelasanku dan memaklumi. Kami pun berbincang – bincang lagi mengenai hal lain. Beliau bertanya aku dari mana, dan ketika tahu aku dari Bandung, beliau bilang kalau dia dulu juga pernah tinggal di Bandung. Kita pun kemudian berbincang – bincang sedikit tentang Bandung. Lucunya, beliau juga masih mengingat beberapa kosakata Bahasa Sunda. Hahaha seneng banget deh aku. Setelah berbincang – bincang dengan bapak tersebut, aku memutuskan untuk pamit dan beranjak ke area Keraton yang lain. Kebetulan waktu itu akan ada pertunjukkan wayang kulit. Akhirnya, aku menonton sebentar walaupun aku sama sekali tidak mengerti Bahasa Jawa hehe. Ketika aku duduk di area pertunjukkan wayang kulit, aku sembari memperhatikan sekeliling. Ada beberapa orang yang aku lihat hanya terduduk sendiri kayak aku. Aku pikir berarti gak aku doang dong yang suka pergi sendirian hehehe. Setelah menonton pertujukkan wayang kulit, aku pun memutuskan untuk keluar area Keraton dan bergegas untuk pergi ke tempat makan yang unik yaitu….
![]() |
| Para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta |
Seperti biasa
aku menggunakan transportasi ojek online untuk menuju tempat selanjutnya, yaitu
Rujak Es Krim Pak Nardi. Aku tahu tempat ini setelah beberapa kali menonton
acara di TV. Jarak dari Keraton tidak terlalu jauh, tempatnya berada di jalan
Harjowinatan no 2, Purwokinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Kedai Pak Nardi
sangat strategis terletak di pinggir jalan. Kedainya tidak terlalu luas tapi
ketika aku datang, ada lumayan banyak orang yang berkunjung. Aku memesan
seporsi rujak es krim yang dibandrol seharga Rp 7.000. Satu porsi terdiri dari
es krim dan parutan buah – buahan yang biasa ada di rujak seperti, bengkoang,
timun, nanas, pepaya, kedondong dan mangga lalu kemudian ditambahkan kuah
rujak. Rasanya ketika sampai di mulut tuh, campur – campur, ada manis dan
lembut dari eskrimnya, dan juga sedikit asam dari rujaknya. Sungguh perpaduan
unik yang baru aku coba seumur hidup. Rujak Es Krim Pak Nardi ini juga disebut
– sebut sebagai pelopor penjual rujak es krim di Kota Yogyakarta. Oh iya, bagi
kalian yang cuma pengen makan rujaknya aja juga bisa kok. Soalnya aku lihat ada
pengunjung lain yang cuma makan rujaknya aja. Namun untuk harganya aku kurang
tahu. Tinggal request aja ya ke Pak Nardi. Setelah menyantap rujak
eskrim, aku putuskan untuk kembali ke hostel.
![]() |
| Seporsi rujak es krim |
Setibanya di hostel, aku memutuskan untuk makan siang di warung makan yang terletak persis di sebrang Hostel tempatku menginap, yaitu Soto Daging Sapi & Nasi Pecel Mbak Nunung. Walaupun warungnya sederhana, namun yang makan di sana sangat banyak. Apalagi ketika aku datang bertepatan dengan jam makan siang. Aku memesan seporsi soto daging dan nasi. Di warung tersebut menjual banyak makanan khas – khas Indonesia, ya seperti masakan – masakan rumah gitu deh. Ada yang unik ketika aku hendak membayar pesananku. Aku gak sengaja memanggil pemilik warung tersebut dengan sebutan “teteh” hihi. Maklumlah kebiasaan di tanah Sunda. Pemilik warung tersebut pun hanya tertawa dan berkata “gak apa apa kok dipanggil teteh juga”. Aku jadi malu hehehe. Setelah membayar makanan seharga Rp 18.000 aku pun kembali menyebrang ke hostel dan memutuskan untuk sholat dan istirahat sebentar.
![]() |
| Seporsi soto daging dan nasi |
Aku terbangun pukul setengah 3 sore karena ada yang mengetuk pintu kamarku. Setelah aku buka ternyata pegawai Engineering hostel tersebut yang berkata hendak menge-check freon AC. Aku persilahkan masuk dan aku tetap bertahan di dalam kamar sembari main hp. Tapi karena tak kunjung selesai, aku putuskan untuk keluar kamar dan bersantai di lobby hostel. Setelah sekitar satu jam aku berada di lobby hostel, aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar karena hendak sholat ashar dan mandi. Ketika aku membuka pintu kamar, aku sambil mengucapkan “assalamualaikum” dan kemudian ada yang menjawabnya. Aku kaget dong, jujur aku langsung parno. Apalagi posisi kasur yang berada di depan mataku, tidak mengisyaratkan ada orang. Aku pun tetap terus maju dan jalan pelan – pelan sembari cemas. Ternyata setelah aku tengok ke sebelah kiri, aku kaget karena ada orang hahaha. Jadi, kasur yang terisi itu memang terhalang tembok kamar mandi, sehingga ketika aku masuk memang tidak akan langsung terlihat oleh orang yang masuk. Aku pun bernafas lega. Aku pun tersenyum kepadanya sekilas dan bersiap hendak ke toilet. Namun langkahku terhenti ketika dia mengajak ngobrol. Lumayan banyak yang kita obrolkan, mulai dari kota asal hingga berlanjut ke obrolan lainnya. Dia adalah seorang wanita asal Bekasi yang hendak berlibur dengan temannya. Namun temannya berasal dari Bandung dan baru akan berangkat ke Yogyakarta jumat sore. Ketika kita sedang berbincang – bincang, tiba – tiba ada lagi tamu perempuan yang masuk. Kita pun hanya menyapanya sekilas dengan senyuman. Setelah berbincang – bincang aku pun memutuskan untuk pamit hendak mandi dan solat. Aku memutuskan untuk solat ashar di mushola hostel. Setelah selesai solat Ashar, aku kembali ke kamar dan ternyata ada lagi penghuni kamar yang baru. Jadi total, sore itu aku dapet teman sekamar baru sejumlah 3 orang. Jam menujukkan jam 5 sore, aku bersiap – siap hendak pergi ke membeli oleh – oleh di toko bakpia dekat hostel. Aku pun menanyakan ke teman baruku dari Bekasi itu, apakah dia mau bergabung bersamaku atau tidak. Dia pun berkata, ayo, kebetulan dia tidak punya rencana kemana pun sore itu. Ketika aku sudah siap, aku melihat dia masih saja berdandan. Aku pun juga baru sadar kalau aku juga gak punya uang cash dan hendak ke ATM. Aku pun berkata kepada dia, boleh gak kalau aku duluan pergi, nanti ketemuan di Jalan Malioboro. Dia pun mengiyakan sembari meminta nomor hp-ku. Akhirnya dari situ, baru aku tahu kalo dia bernama Mbak Vivi. Haha perkenalan yang agak aneh ya. Aku pun bergegas pamit menuju ATM. Aku pergi ke ATM dekat hostel dengan berjalan kaki. Ketika selesai menarik uang, adzan Maghrib berkumandang, berhubung dekat ATM ada masjid, aku putuskan untuk solat maghrib terlebih dahulu. Selepas solat, aku berjalan menuju titik 0 km Yogyakarta yang jaraknya tidak terlalu jauh. Tadinya aku berniat untuk menunggu kedatangan mbak Vivi agar bisa berjalan bersama – sama ke Malioboro, namun rencana semua berubah karena aku harus membeli oleh – oleh. Jadi aku putuskan untuk membeli oleh – oleh terlebih dahulu, baru jalan sama Mbak Vivi biar tenang dan beres.
Pertama, aku
putuskan untuk membeli oleh – oleh bakpia kukus tugu yang sangat hits itu. Ada
banyak cabang, namun aku memutuskan untuk mendatangi salah satu tokonya yang
terletak di jalan K.H Ahmad Dahlan no 10. Setelah itu, aku juga membeli oleh –
oleh bakpia yang masih original. Ada salah satu jalan dekat hostel tempatku
menginap yang sangat terkenal dengan penjualan bakpia. Hampir sepanjang jalan
tersebut, semua tokonya menjajakan oleh – oleh bakpia. Jalan tersebut adalah
jalan Karel Sasuit Tubun, Ngampilan Yogyakarta. Berdasarkan rekomendasi dari
temanku Mbak Tri, aku memutuskan untuk membeli bakpia di toko yang bernama Bakpia
Pathok 25. Ada dua jenis bakpia yang dijual, yaitu, bakpia basah dan kering.
Selain menjual bakpia, toko tersebut juga menjual beberapa oleh – oleh lain,
seperti gethuk, dan aneka keripik. Oh ya, toko ini juga menerapkan open
kitchen. Jadi sekilas kita bisa liat bagaimana proses pembuatan bakpia.
Setelah membeli yang aku butuhkan, aku kembali ke hostel dengan berjalan kaki
karena jaraknya memang dekat sekali dengan hostel tempatku menginap.
Sekitar pukul delapan malam aku tiba di hostel, aku pun memutuskan untuk menyimpan semua barang belanjaanku dan diajak oleh Mbak Vivi untuk makan malam di House Of Raminten. Kita kesana dengan menggunakan transportasi ojek online masing – masing. Aku tiba terlebih dahulu di House Of Raminten yang terletak di jalan Faridan M Noto no 7 Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Ketika aku datang, antrian untuk masuk ke dalam restoran tersebut sudah sangat Panjang. Tidak lama kemudian, Mbak Vivi pun datang. Akhirnya kita pun mendaftarkan diri agar bisa masuk ke waiting list. Sembari menunggu antrian aku putuskan untuk solat Isya terlebih dahulu dan meninggalkan sejenak Mbak Vivi di ruang tunggu. Sekembalinya aku ke ruang tunggu ternyata, nama kami belum juga dipanggil. Aku pun memperhatikan sekeliling tempat ini, tempat yang biasanya hanya aku lihat dari instastory teman ketika mereka berkunjung ke Yogyakarta. Konsep restoran tersebut mengusung tema Jawa. Itu terlihat dari para pegawai restoran yang berpakaian khas daerah Jawa. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya nama kami dipanggil dan mendapatkan tempat di lantai 2. Tempat makannya sendiri berbentuk lesehan. Jadi hanya disediakan meja. Lalu kami pun diberikan buku menu. Banyak sekali menu yang disajikan di sana. Semuanya adalah makanan khas Indonesia. Setelah memesan, kami pun berbincang – bincang kembali. Mbak Vivi bercerita bahwa dia sudah beberapa kali menjalankan solo traveling. Yang terjauh, ia pernah ke Hongkong selama seminggu. Sisanya dia juga pernah menjalankan solo traveling ke Singapura, Kediri dan Malang. Aku kagum banget sama dia. Aku pun berangan – angan semoga bisa kayak dia suatu saat nanti. Aku gak merasa kesulitan dan juga takut ketika harus beradaptasi dengan Mbak Vivi. Bisa dibilang, ini adalah pengalaman pertama kalinya untukku pergi dan makan bersama orang yang baru aku kenal. Makanan pun datang dan kita makan dengan lahap. Tapi maaf aku lupa kita pesan apa hehe. Setelah selesai makan, kita pun kembali ke hostel. Setibanya di hostel, kita gak langsung masuk ke kamar, tapi main dulu di rooftop hostel lantai 5 untuk melihat suasana kota Yogyakarta malam hari. kita pun menikmati suasana malam Yogyakarta hingga tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bahkan, security saja sampe menegur kita karena masih ada di rooftop malam – malam heheh. Setelahnya kami pun kembali ke kamar masing – masing. Kebetulan dua orang teman sekamar kami yang belum sempat berkenalan juga udah pada tidur. Malam itu pun ditutup dengan lelapnya kami dalam alam mimpi masing - masing
![]() |
| Yang kami pesan di House of Raminten |
![]() |
| Suasana malam Kota Yogya |
• Hari kembali ke Bandung, 14 Maret 2020; Sampai jumpa lagi Yogyakarta
Selepas solat
Subuh aku putuskan untuk mengemas kembali barang – barangku. Memastikan tidak
ada yang tertinggal. Ini adalah hari terakhir aku di Yoyakarta. Sedih rasanya.
Tapi ya mau gimana lagi. Setelah beberapa barang beres, aku pun mandi. Aku
mandi terlebih dahulu. Selepas mandi, aku pun bersiap – siap dan menunggu Mbak
Vivi untuk sarapan bersama. Sarapan dimulai pukul setengah tujuh, namun sekitar
jam enam lebih kita memutuskan untuk menuju rooftop terlebih dahulu
untuk melihat suasana kota Yogyakarta di pagi hari. Rasanya indah banget,
walaupun pagi hari di Yogya tidak sedingin di Bandung. Aku lebih banyak
mengamati dan mengambil beberapa foto suasana kota Yogya untuk kenang –
kenangan. Setelah puas, aku dan Mbak Vivi pun makan bersama sambil berbincang –
bincang tentunya. Setelah makan aku dan Mbak Vivi kembali ke kamar. Aku pun
bersiap – siap untuk segera check out. Sebelum meninggalkan kamar, aku
berpamitan dengan teman – teman
sekamarku, selain Mbak Vivi tentu juga yang dua lainnya. Aku melangkah keluar
kamar dan membereskan semua yang berkaitan tentang kamar di Front Office.
Setelah semua selesai, aku menaiki ojek online untuk menuju ke stasiun Tugu
Yogyakarta. Setibanya di sana aku langsung mengikuti semua alur untuk menaiki
kereta. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kereta Lodaya yang akan ku naiki
datang. Kali ini, demi kenyamanan aku memutuskan untuk menaiki kereta kelas
ekonomi premium. Aku berada di gerbong ekonomi premium 4. Tepat pukul 08:18
kereta pun melaju meninggalkan stasiun Tugu. Kala itu, gerbong kereta ekonomi
premium 4 yang aku naiki cukup lengang, mungkin tidak sampai 30 penumpang di
dalamnya. Kursi di sebelah aku pun kosong, jadinya aku bisa bebas. Aku senang
banget selama perjalanan kali ini, karena jalan di pagi hari sehingga aku bisa
melihat pemandangan hamparan sawah nan hijau yang begitu menyegarkan mata,
terus aku juga bisa lihat perumahan warga yang ada di pinggir rel.
![]() |
| Suasana pagi Kota Yogya |
![]() |
| Di dalam kereta |
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, aku putuskan untuk menuju kereta restorasi untuk makan siang. Aku berjalan melewati beberapa gerbong. Ternyata gerbong lain justru kursinya cukup terisi penuh, berbeda dengan gerbang yang aku tempati. Cukup membutuhkan perjuangan untuk berjalan di atas kereta yang sedang berjalan. Hingga akhirnya aku pun tiba di kereta restorasi. Aku memesan seporsi mie goreng dengan sosis. Seru banget, makan siang di kereta yang sedang berjalan sembari melihat pemandangan hijau di depan mata. Setelah makan aku pun menjalankan solat Dzuhur di mushola yang tersedia tidak jauh dari kereta restorasi. Ini juga tantangan sih solat di atas kereta yang berjalan hahaha. Setelah selesai solat aku pun kembali ke kursiku. Perjalanan pulang kali ini benar – benar sangat aku nikmati. Bebas, nyaman, mantep deh pokoknya. Beda banget sama perjalanan pergi yang mana aku ngerasa gak betah banget. Aku juga sempet keluar kereta ketika kereta berhenti untuk pengecekan mesin. Beberapa penumpang yang lain pun juga melakukan hal yang sama. Khususnya buat para lelaki, kesempatan ini digunakan untuk merokok karena di dalam kereta tidak diijinkan untuk merokok. Setelah pengecekan selesai, kereta memberi aba – aba bahwa kereta akan berjalan kembali. Kami pun para penumpang kembali menaiki kereta dan tak lama kereta berjalan kembali. Singkat cerita, setelah perjalanan panjang selama 8 jam, tibalah aku kembali di rumahku, Kota Bandung. Setibanya aku di Stasiun Bandung, aku dijemput oleh adikku. Senang banget aku bisa menghirup udara sejuk Kota Bandung lagi. Aku berharap, ini bukan jadi perjalanan traveling terakhirku, semoga ini adalah awal pembuka cerita – cerita travelingku selanjutnya.
![]() |
| Makan seporsi mie goreng sosis, dengan pemandangan hijau, Masya Allah |
notes: sekian cerita solo traveling ini, berakhir di sini. mohon maaf apabila ada ketidaklengkapan informasi ataupun berbagai kekurangan dalam penulisan. semoga bisa saya perbaiki di lain waktu. jujur, ini adalah pertama kalinya saya menulis konten traveling dan semuanya berdasarkan pengalaman saya seorang diri. jadi mohon maklum apabila tidak sebagus travelblog lainnya. karena menulis di sini hanya bertujuan agar cerita selama di Yogya tidak hanya terekam dalam memori saya saja, melainkan bisa diabadikan dalam bentuk tulisan, agar bisa saya baca di masa yang akan datang. semua yang serba pertama, pasti tidak akan langsung bagus kan? hehehe
"selalu ada salah dan gagal untuk setiap hal yang baru pertama kali dilakukan. wajar"















Komentar
Posting Komentar