Solo Traveling ke Yogyakarta - Adaptasi dengan Cuaca Baru. DAY 0 & 1


Sesuai dengan tulisanku di postingan sebelumnya, kali ini aku mau cerItain pengalaman perdana solo traveling-ku ke Yogyakarta beberapa saat yang lalu. Aku bakal cerita mulai dari awal keberangkatan sampai pulang kembali ke Bandung. Kemungkinan besar, ini akan dibagi ke dalam beberapa bagian.


Hari keberangkatan, 9 Maret 2020

Pukul setengah 6 sore dengan diantar Ibuku aku pergi ke Stasiun Bandung. Aku selalu excited setiap kali akan berpergian dengan kereta api. Makanya, walaupun kereta yang akan ku naiki berangkat jam 8 malam, aku sudah berangkat lebih cepat. Setibanya di stasiun, aku langsung mencetak tiket, di tempat yang telah tersedia. Sebelumnya aku sudah memesan tiket melalui aplikasi Traveloka. Setelah tiket tercetak, aku melaksanakan sholat Maghrib terlebih dahulu, sedangkan Ibuku menunggu di ruang tunggu bersama dengan barang – barang yang kubawa. Selepas sholat, aku pun kembali ke ruang tunggu dan bergantian dengan Ibuku menjaga barang bawaan, sedangkan Ibuku mulai menuju mushola untuk sholat. Selama menunggu saat itu, entah mengapa aku merasa seperti merasakan de javu. Bahkan ini berlangsung hingga pulang kembali. Nanti akan aku ceritakan juga di bagian lain. Setelah selesai sholat Ibuku kembali ke ruang tunggu. Pukul 7 malam, aku check-in dan di sini pula aku berpisah dengan Ibuku. Aku pun menunggu kereta di ruang tunggu. Kereta yang akan ku naiki saat itu ada di jalur 3, namanya kereta api Malabar jurusan Jakarta Pasar Senen – Malang. Aku akan menaiki kelas Ekonomi di gerbong 2. Saat di ruang tunggu jujur aku sangat mengantuk, namun karena sadar hanya pergi sendirian aku berusaha untuk menahan kantuk. Singkat cerita, jalur 3 sudah dibuka sekitar pukul setengah 8 malam, para penumpang dipersilahkan untuk menunggu kereta di sisi rel. 10 menit kemudian kereta Malabar pun datang. Aku dan para penumpang pun segera menaiki kereta. Karena gerbong Ekonomi 2 yang kunaiki di depan pintu gerbongnya tidak tersedia tangga, maka dari itu aku menaiki kereta melalui pintu gerbong ekonomi 1. Saat aku masuk, suasana kereta di gerbong tersebut sudah cukup padat. Aku pun terus jalan hingga tiba di gerbong ekonomi 2. Kemudian mencari kursi 17E. Akhirnya aku menemukan kursi yang aku tuju. Ketika aku tiba, disana sudah ada 2 laki – laki yang masing – masing menduduki kursi 17D dan 18E. Posisi kursi di kereta Ekonomi adalah berhadapan – hadapan. Jadi ya sepanjang perjalanan aku harus berhadapan dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali. Untungnya mereka adalah laki – laki yang baik semua. Ini terbukti ketika aku hendak menyimpan tas ranselku ke atas rak, aku mengalami kesulitan. Kemudian, laki – laki yang ada disebelahku menolongku menyimpan tas tersebut. Alhamdulillah. Tidak berapa lama setelah itu, kursi 18D akhirnya ada yang mengisi, dan diisi oleh laki – laki lagi. Jadilah di kursi itu aku bersama tiga laki – laki yang tidak ku kenal sama sekali.

Selama perjalanan, aku sangat kesulitan sekali untuk menggerakkan kaki. Bagaimana tidak, jarak antar kursi sangat dekat sekali. Sekali saja gerak, bisa mengenai kaki orang lain. Belum lagi rasa canggung yang aku rasakan karena harus duduk bersama dengan orang asing, mana semuanya laki – laki lagi. Pengen ngobrol, malu, ga ngobrol, berasa kaku banget. Tapi ya udah aku coba nikmatin aja. Baru kali ini aku naik kereta jarak jauh dan di waktu malam hari, rasanya ya kosong aja gitu karena ga ada pemandangan yang bisa dilihat selain kerlap – kerlip lampu perumahan warga atau gedung yang aku lewati. Sisanya, yang bisa kelihatan adalah pantulan orang lain yang ada di kaca. Selain ga nyaman dengan posisi kursi, aku juga sulit tidur selama perjalanan. Kalau ini sih emang PR aku banget. Aku selalu gak bisa tidur setiap kali ada di perjalanan. Pokoknya, selama di perjalanan, yang terjadi adalah aku tidak nyaman dengan posisi kursi dan juga kesulitan tidur nyenyak. Baru dalam perjalanan kali ini, aku bener – bener ga nyaman di kereta. Padahal biasanya aku selalu excited setiap kali naik kereta. Ketika kereta baru 4 jam saja melaju, aku udah bener- bener ngerasa jenuh dan ngebatin dalam hati pengen cepet – cepet nyampe. Tidur susah, kaki susah gerak. Ya aku sadar ini memang karena aku yang memilih kereta ekonomi. Ini kali ya resikonya.

Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya pukul 04:02 aku tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Wah seneng banget aku. Bener – bener seneng. Aku pun bersama penumpang lain bergegas menuju keluar kereta. Keluar dari kereta aku sempat agak bingung, dan hanya mengikuti arus orang – orang di depanku yang ternyata menuju ke pintu keluar. Sampai di pintu keluar, aku merasa masih terlalu pagi dan berbahaya kalau aku harus langsung segera ke Hostel. Akhirnya aku putuskan masuk lagi ke dalam dan mencari mushola untuk sholat dan beristirahat. Sesampainya di sana aku pun beristirahat sejenak sembari menunggu adzan subuh. Selepas adzan subuh berkumandang, aku pun menunaikan ibadah bersama jamaah lain. Setelah selesai sholat, aku putuskan untuk tidur sejenak di mushola sampai menunggu pagi. Di mushola kala itu, tidak hanya aku yang tidur, tapi juga ada perempuan lain. Akhirnya aku pun bisa istirahat sejenak.


Hari pertama di Yogyakarta, 10 Maret 2020; Adaptasi dengan cuaca baru

Akhirnya aku pun terbangun dari tidur di mushola. Sekitar pukul 6 aku pun keluar dari pintu gerbang Stasiun Tugu. Aku menyisiri pintu keluar dan berniat mencari sarapan terlebih dahulu. Aku sudah membuat rencana bahwa aku harus mendatangi salah satu warung Gudeg yang terkenal di Yogyakarta, yaitu gudeg Mbah Lindu. Aku pun berjalan menyisiri kota Yogyakarta yang walaupun masih pagi hari kala itu, tapi buatku cuaca amat terasa panas. Mungkin karena aku belum terbiasa kali ya. Maklumlah, kalau di Bandung, jam 6 pagi tuh masih terasa dingin banget. Aku pun terus berjalan sampai akhirnya aku tiba di jalan Malioboro. Aku cukup kaget karena ternyata jarak dari pintu keluar stasiun Tugu itu sangat dekat dengan jalan Malioboro. Ketika berada di jalan Malioboro, aku putuskan untuk bertanya kepada seorang Ibu petugas kebersihan dimana Gudeg Mbah Lindu berada. Akhirnya aku pun diberitahu oleh Ibu tersebut untuk memasuki sebuh gang kecil yang aku lupa apa namanya. Kata Ibu tersebut, aku hanya cukup berjalan lurus terus di dalam gang tersebut dan kelak di ujung gang akan ditemui warung gudeg Mbah Lindu. sepanjang dalam gang tersebut ternyata berisi penginapan, tempat rental kendaraan dan juga laundry. Akhirnya tiba juga di ujung gang, dan di sebrang gang terdapat gudeg Mbah Lindu. Warung gudeg Mbah Lindu merupakan warung yang sangat sederhana yang terdapat di pinggir jalan dan juga depan sebuah hotel. Gudeg Mbah Lindu beralamat di jalan Sosrowijayan no 30, Sosromenduran, Gedong Tengen, Yogyakarta. Saat aku datang, sudah ada beberapa orang juga yang sedang makan disitu. Aku pun memesan seporsi nasi, gudeg, dan juga telur. Selain menu tersebut, di Gudeg Mbah Lindu juga ada menu lain seperti krecek dan ayam. Aku pun makan ditemani suasana kota Yogyakarta yang kala itu sudah menujukkan pukul setengah 7 pagi dan aktivitas para warga sudah mulai berjalan. Gudeg Mbah Lindu tidak membuka cabang dimanapun. Maka dari itu, berisaplah untuk antri ketika datang kesana. Aku pun merasakan itu ketika datang. Harus sabar ketika menunggu pesanan. Di warung gudeg tersebut hanya ada dua orang yang melayani. Oh ya, saat sebelum sampai di Gudeg Mbah Lindu, aku sempat bertemu seorang Ibu warga gang yang tadi aku lewati. Kata beliau, yang melanjutkan menjual Gudeg Mbah Lindu bukanlah Mbah Lindu sendiri, melainkan anaknya. Mbah Lindu sendiri sudah senja sehingga tidak menjual gudeg langsung. Jadi kemungkinan besar yang ku temui di warung gudeg Mbah Lindu itu adalah anaknya. Untuk rasa sendiri menurutku enak. Seporsi gudeg Mbah Lindu dibandrol harga Rp 22.000. Itu mungkin juga tergantung dari lauk apa yang kita pilih.

Seporsi Gudeg Mbah Lindu


Setelah selesai makan, aku pun memesan ojek online untuk segera menuju ke tempat penginapanku. Aku menginap di salah satu Hostel yaitu “Edu Hostel”. Jarak dari gudeg Mbah Lindu ke Edu Hostel tidaklah terlalu jauh. Akhirnya aku tiba di Edu Hostel dan memutuskan untuk early check in. Ini semua aku lakukan karena aku sudah tidak kuat menahan rasa capek membawa barang – barang dan juga kurang tidur. Sebelumnya, aku sudah memesan kamar jenis Dormitory lewat aplikasi Traveloka. Harganya permalamnya di kisaran Rp 76.000. Karena saat itu aku early check in, maka dari itu aku harus membayar biaya tambahan sebesar Rp 40.000 dan juga membayar deposit sebesar Rp 50.000 yang kelak ketika check out akan dikembalikan. Saat check in, aku diberi kunci kamar, voucher breakfast, handuk dan selimut yang juga harus dikembalikan ketika check out. Aku juga membeli kunci beserta gembok seharga Rp 12.000 untuk loker di kamar. Sebelumnya aku sudah membaca beberapa review tentang Hostel ini, bahwa di dalam kamarnya kita mendapat loker namun tidak ada kuncinya. Maka dari itu harus membeli. Setelah beres semua soal check in, aku pun naik ke lantai 2 menuju kamarku di 221. Setibanya di kamar, aku melihat sudah ada 2 kasur yang posisinya berantakan. Dari situ aku bisa menilai bahwa memang sudah ada orang sebelumnya di kamar ini. Ketika aku sedang membereskan barang – barangku, tiba – tiba ada yang keluar dari kamar mandi. Aku pun menyapanya sekilas. Dari sapaan itu berlanjut ke obrolan yang lain. Ternyata perempuan ini bernama Mbak Jingga asal Malang yang berlibur seorang diri ke Yogyakarta dalam rangka merayakan kelulusan kuliahnya. Untuk ukuran baru kenal, lumayan banyak obrolan yang kita bicarakan, mulai dari kota asal kita masing – masing dan rencana – rencana selama di Yogyakarta. Berbeda denganku yang sudah menyusun rencana selama di Yogyakarta, Mbak Jingga justru tidak memilikinya. Jadi dia bener – bener baru merencanakannya sesaat sebelum keluar hostel. Setelah obrolan selesai, Mbak Jingga pamit untuk keluar jalan – jalan dan akupun sendirian di kamar. Setelah Mbak Jingga pergi, aku mandi dan bersiap untuk pergi ke Taman Sari sesuai rencana yang telah ku tulis.
Room Type Dormitory




Pemandangan dari rooftop lantai 5 Edu Hostel


Sekitar pukul 10 aku keluar hotel dan berangkat ke Taman Sari menggunakan ojek online. Setibanya di sana, aku membeli tiket seharga Rp 5.000 untuk wisatawan lokal. Setelah mendapatkan tiket, aku menggunakan jasa pemandu wisata untuk menemaniku mengetahui tentang Taman Sari. Taman Sari adalah tempat yang dahulu digunakan oleh keluarga Sultan sebagai tempat pemandian dan peristirahatan. Selain sebagai tempat keluarga keraton beristirahat, Taman Sari juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai tempat pertahanan, tempat religius, dan tempat pesiar atau rekreasi. Taman sari sangatlah luas. Di dalamnya juga banyak tempat yang cocok dijadikan spot foto. Tidak heran, ada beberapa titik yang dijadikan tempat foto oleh wisatawan sebagai kenang – kenangan. Setelah puas mengelilingi Taman Sari, aku lupa tepatnya pukul berapa, yang pasti aku sudah sangat kelelahan dan haus. Bagaimana tidak, kala aku datangi Taman Sari, cuaca Yogyakarta sangat terik. Ditambah lagi, aku yang kurang istirahat setelah perjalanan kereta 8 jam dari Bandung. Tadinya setelah dari Taman Sari aku mau makan di Ayam Geprek Bu Rum, namun aku batalkan dan mengubah rencana jadi makan gelato di Tempo Gelato. Lagi – lagi aku menggunakan jasa ojek online menuju ke Tempo Gelato yang terletak di jalan Prawirotaman no 43. Setibanya di sana, suasana kafe tersebut tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pengunjung. Aku seneng dan kayak orang norak sih, karena akhirnya aku merasakan suasana adem dari AC, saat itu aku bener – bener belum bisa beradaptasi dengan baik sama cuaca kota Yogyakarta. Ketika aku masuk, nuansa ruangannya seperti arsitektur Eropa. Langit – langitnya cukup tinggi. Di beberapa sudut dinding juga ada foto – foto orang yang pernah berkunjung ke Tempo Gelato. Oh iya, siapkan uang cash ya ketika hendak memesan disana, karena pembayaran hanya bisa menerima cash. Konsep memesan gelato disana adalah, memilih dulu hendak menggunakan cone atau cup, lalu pilih ukurannya. Kalau aku tidak salah, ukuran dimulai dari small, medium, hingga large. Kala itu, aku memesan es menggunakan cone dan bisa memilih gelato dalam 2 rasa. Setelah membayar, aku baru bisa memilih rasa apa yang aku inginkan. Ada banyak sekali rasa yang disajikan oleh Tempo Gelato, dan uniknya, kita bisa mencicipi terlebih dahulu sebelum menjatuhkan pilihan. Saat itu bener – bener bingung dihadapkan banyak pilihan, rasanya kayak pengen semuanya. Aku cukup lama dalam memilih, untung mbak pegawainya sabar banget hehe. Setelahnya, aku jatuhkan pilihanku pada gelato rasa mangga dan Nutella. Aku pun duduk usai mendapatkan gelato di tanganku. Setelah menikmati gelato aku kembali lagi ke hostel karena aku merasa semakin lemas dan juga takut terjadi apa – apa. Setibanya kembali di hostel, aku pun memesan makanan fast food khas Yogyakarta, yaitu Olive Fried Chicken. Aku tahu fast food tersebut dari akun youtube kuliner yang pernah aku tonton. Singkat cerita, pesananku yang aku pesan melalui ojek online tentunya, datang. Aku pun makan di kamar sendirian sembari ditemani view Kota Yogyakarta. Untuk rasanya, Olive Fried Chicken menurutku sangat enak untuk ukuran fast food lokal. Rasa ayamnya gurih. Bener – bener dari gigitan pertama tuh kerasa banget kalo bumbu ayamnya meresap banget ke lapisan daging ayam, kulitnya juga crispy banget. Pokoknya enak deh. Kalian wajib coba Olive Fried Chicken kalau main ke Yogyakarta. Setelah makan, aku putuskan untuk sholat Dzuhur dan tidur sejenak.

Daftar harga tiket masuk Taman Sari

Taman Sari
   








Berbagai macam rasa di Tempo Gelato



Rasa yang aku pilih, Mangga dan Nutella

Interior Tempo Gelato

Seporsi Olive Fried Chicken. Wajib Coba !

Sore hari setelah aku bangun dari tidur, aku putuskan untuk mandi. Selepas mandi, aku cek hp ada panggilan tak terjawab. Aku coba hubungi kembali, ternyata itu adalah nomor hostel yang mana sang receptionist mengabarkan bahwa aku harus pindah kamar ke kamar lain karena AC yang ada di kamarku tidak dingin dan sulit diperbaiki oleh pihak Engineering. Memang sih, aku udah cukup sadar dari pas datang kalau memang AC kurang terasa dingin. Akhirnya, aku pun merapihkan seluruh barang – barangku dan bergegas pindah ke kamar lain yang jaraknya bersebelahan dengan kamarku yang sebelumnya. Setelah beres dengan drama pindah kamar, sore hari pukul 5 sore aku putuskan untuk ke jalan Malioboro. Kayak udah suatu keharusan deh kalau ke Yogyakarta pasti harus ke Malioboro. Kala itu aku putuskan untuk jalan kaki menuju jalan Malioboro, selain agar lebih hemat, aku juga ingin lebih merasakan atmosfer kota Yogyakarta. Berbekal google maps, aku menyusuri jalan dari hostel menuju malioboro. Sesampainya di Malioboro, aku langsung takjub gitu hahah norak banget ya. Ga banyak yang aku lakukan di Malioboro, Cuma sekedar membeli oleh – oleh aja dan menikmati suasana kota Yogyakarta di petang menuju malam. Ketika adzan Maghrib berkumandang, aku putuskan untuk sholat Maghrib di mushola yang terletak di Mall Malioboro. Selepas sholat, aku pun memutuskan untuk membeli Lumpia Samijaya yang terletak tidak jauh dari Mall Malioboro. Letaknya persis berdekatan dengan Hotel Mutiara. Lumpia Samijaya ini sangat banyak penggemarnya. Gak heran pas aku datang, antrian udah panjang banget dan masuk waiting list. Jangan bayangkan Lumpia Samijaya ini dijual di resto atau kedai ya. Lumpia Samijaya ini hanya dijual di gerobak sederhana, namun untuk rasa tidak sederhana karena rasanya enak banget. Lumpia Samijaya adalah lumpia yang digoreng. Ada dua rasa isian yang dijual Lumpia Samijaya yaitu, Lumpia Ayam yang terdiri dari sayuran dan ayam seharga Rp 5.000 dan Lumpia Spesial yang terdiri dari sayur, ayam dan telur puyuh seharga Rp 6.000. Setelah makan Lumpia Samijaya aku bergegas pergi ke Alun – Alun Utara untuk mencari Bakmi Goreng Pak Pele yang terkenal di Yogyakarta. Dan lagi – lagi benar saja, sesampainya di sana, aku harus masuk waiting list. Bakmi Pak Pele merupakan warung sederhana yang menjual aneka bakmi atapun nasi goreng. Karena kala itu warungnya rame banget , aku putuskan untuk memesan Bakmi Goreng namun dibungkus agar aku bisa memakannya di hotel. Cukup lama aku menunggu pesanan selesai mungkin ada lah sekitar setengah jam. Setelah pesananku selesai, aku putuskan kembali pulang ke hostel.

Bakmi Pak Pele

Lumpia Samijaya

Alun - Alun Utara




Setibanya di hostel, aku bertemu kembali dengan Mbak Jingga dan akhirnya bertemu dengan penghuni kamar yang satu lagi. Namanya Mbak Tri dari Kebumen. Dia ke Yogyakarta dalam rangka acara pelatihan dari kantornya. Awal – awal aku agak canggung ketemu dia, tapi akhirnya lama – lama jadi cair. Sebelum tidur bahkan kita bertiga sempet ngobrol – ngobrol sebentar mengenai aktivitas kita seharian dan rencana esok hari. Hari pertama pun berakhir seiring masuknya kita semua ke alam mimpi masing - masing

















Komentar

Postingan Populer